Bodoh

ya

Jika pergeseran perspektif pada saya bisa dijabarkan dalam satu-dua kalimat, agaknya itu: “It’s fine to be stupid.

Memasuki Seijin no Hi benar-benar sebuah tarik menarik. Di satu sisi saya mengeluh, ngoyo terus akan minimnya pencapaian diri sendiri. Di sisi lain, saya makin sering mempertanyakan: “lantas buat apa?“. Saya jadi lebih sok tahu. Sok-sok memperkirakan makna sebelum melakukan sesuatu, padahal sebelumnya adalah tipe yang hajar bleh, yang penting menang dulu. Saya tidak yakin mana yang lebih baik. Sekarang saya agaknya berdamai dengan kondisi saya yang terus-terusan bodoh dan biasa-biasa saja (seseorang mungkin tertawa kalau melihat saya menulis frasa-yang-sebenarnya-saya-benci ini) .

Hidup adalah sekuens dari kesalahan satu ke kesalahan lainnya. Dan di antaranya, kita memetik makna. Meski entah akhirnya jadi benar atau tidak.

Perempuan, Teknologi, dan Hal-hal yang Belum Selesai

Saya programmer. Saya perempuan.


“Marie Curie… er…, er…”,

Saya berani bertaruh, begitulah respon yang akan saya dapat jika memberi pertanyaan kepada sembarang orang untuk menyebutkan minimal tiga nama perempuan yang berjasa di ranah sains dan teknologi. Sukur-sukur — jika orang itu mengenal internet — barangkali  setelahnya ia dapat menyebut Maryam Mirzakhani, namun tetap saja, saya sangsi ia bisa memberi nama ketiga.

Rasa sangsi saya bukan tanpa alasan. Dalam kurun waktu 1901-2010, tercatat hanya ada 16 perempuan yang mendapatkan hadiah Nobel di bidang sainstek (fisika, kimia, fisiologi). Selama abad ke-19, sebagian besar perempuan masih tereksklusi dari pendidikan formal. Kesempatan yang tidak merata ini jugalah yang sedikit-banyaknya menjadi alasan atas minimnya perempuan di dunia sainstek. Jika menarik ke persoalan yang lebih mendasar lagi, Perdana Putri dalam Percakapan Malam Ini Tentang Perempuan dan Sains menyebutkan bahwa ini merupakan hasil dari pola pikir patriarki dan (meminjam istilah beliau) ‘ekses jorok’ dari moda kapitalisme di masyarakat.

Sebelum melanjutkan ke tulisan saya, barangkali kita harus bertanya, jangan-jangan, kita sendiri, diam-diam masih mengamini pola pikir tersebut?


Saya perempuan. Saya programmer.

Hingga ini ditulis, status saya juga masih seorang pelajar, jadi bisa dibilang bahwa saya belum seratus persen terjun langsung sebagai programmer penuh waktu. Meski demikian, saya yang hobi //mengamati// memang telah menangkap hal-hal ‘lucu’ dari ranah ini. Bukan sekali-dua kali saya menangkap kentalnya seksisme di dunia IT.

Seseorang di linimasa saya membagikan tulisan ini sembari menyetujui. Membacanya, membuat saya mengernyitkan dahi.

My (and probably yours) Biggest Question About IT World (https:[email protected][email protected]fb#.d6cwl4lub)

(tidak, bukan saya yang salah ketik, judulnya memang begitu)

Tulisan tadi dibuka dengan pertanyaan,
“Mahasiswi IT itu banyak, tapi kenapa programmer wanita itu sedikit?”

Penulis lantas melanjutkan argumennya dengan menyebutkan hal–hal yang dianggapnya menjadi penyebab minimnya programmer perempuan. Semua poin alasannya didasarkan atas stereotip ‘perempuan’; perempuan lebih emosional, perempuan lebih mudah stres, perempuang lebih mudah menyerah, perempuan adalah sosialita (?), perempuan tidak menyukai sesuatu yang rumit seperti programming???

I was like, “Dude, seriously?”

Di akhir tulisannya, ia menyebutkan tentang eksistensi Ada Lovelace sebagai programmer pertama yang merupakan perempuan, juga tantangan bagi perempuan untuk membuktikan pada dunia bahwa asumsi si penulis atas perempuan itu tidak benar. Membacanya sekilas, barangkali pembaca akan berpikir bahwa, oh ya, tulisan ini bagus dijadikan sebagai pemacu programmer perempuan untuk bekerja lebih giat lagi.

Sayangnya, tidak demikian buat saya.

Saya justru bertanya, “Kenapa saya harus membuktikan? Apa yang harus saya buktikan?” Saya tidak harus membuktikan saya tidak lebih emosional dari seorang laki-laki. Jika kodingan program saya bagus, ya bagus saja. Jika tidak, ya tidak. Bukankah sesimpel itu? Apa pasal perempuan harus membuktikan bahwa dirinya ‘tidak sesuai stereotip’ hanya untuk ‘diakui’? Lagipula, poin-poin yang dijabarkan sebagai ‘stereotip’ di hal tadi saya rasa tidak terkait dengan identitas seksual tertentu.

Saya jadi teringat kata seorang senior, bahwa di dunia sainstek, untuk mendapat pengakuan (atau posisi) yang sama dengan seorang laki-laki, perempuan harus bisa memiliki kemampuan dua setengah kali lebih tinggi dari laki-laki tersebut. Ungkapan tersebut memang tidak didukung data statistik, namun mengingat tulisan di Medium tadi, saya kira kurang lebih memang demikian adanya. Dari sini, saya rasa jelas bahwa dari awal, perempuan dianggap sebagai identitas yang lebih inferior dari laki-laki. Perempuan harus ‘membuktikan’ eksistensi dirinya agar supaya ‘tak lagi dianggap (“sekadar”) perempuan’.

Selain menyoroti tentang stereotip tadi, hal lain yang saya rasa kurang mengakomodir perempuan untuk bisa mendapat privilege yang sama dengan laki-laki adalah kultur kerja di dalamnya, dimana pada sebuah komunitas IT, ada kecenderungan untuk berkomunikasi dengan gaya maskulin, jokes vulgar, juga anggapan bahwa semakin ‘geek’ anda ditentukan dari seberapa ‘arogan’ dan ketidakmampuan (ya, ketidakmampuan) anda untuk berkomunikasi dengan orang lain (terutama komunikasi dengan perempuan). Anda bisa lihat bagaimana film The Social Network menampilkan sosok Mark Zuckerberg (meskipun Mark sendiri menolak bahwa dirinya seperti yang ditampilkan di film), kita bisa menilai bahwa begitulah masyarakat menginterpretasikan bagaimana seorang programmer seharusnya (introvert, anti-sosial).

Kontroversi tentang perempuan di dunia teknologi tidak berhenti di situ saja. Asumsikan seorang perempuan berhasil masuk ke kultur di dalamnya, ini belum berarti bahwa ia akan mampu diterima sepenuhnya. Rentetan kasus pelecehan pada perempuan di dunia teknologi kerap terjadi pada konferensi-konferensi developer program (mulai dari hal ‘sederhana’ seperti panggilan “bitch” yang me-refer ke programmer perempuan) maupun ancaman perkosaan juga bullying secara konstan di lingkungan kerja. Adalah Noirin Shirley, seorang technical writer Google yang mengalami pelecahan seksual pada ApacheCon (sebuah konferensi software di Atlanta, November 2010). Setelah dia menulis nama tersangka di blog, Shirley justru mendapat respon dari pembaca bahwa “dia layak diperkosa” dan mestinya “paham bahwa itu sangat mungkin terjadi” pada situasi tersebut. Daftar panjang kasus pelecehan lainnya dapat anda temukan di sini.

Saat perempuan tersebut bersuara, maka yang terjadi kira-kira seperti Julie Ann Horvarth, seorang teknisi pada komunitas koding sekaliber GitHub, yang akhirnya memilih keluar pada 2014 lalu setelah tak henti mendapat ancaman. Ketika perempuan berbicara mengenai kondisinya yang tidak nyaman secara emosional atas lingkungan kerjanya yang tidak mendukung, ia diminta untuk ‘memaklumi’ dan ‘tidak membawa emosi pribadi’ saat dilecehkan. Apakah tidak ’emosional’ saat anda dilecehkan itulah yang disebut ‘setara’? Apakah jika perempuan diam saja, memaklumi dan santai saat dilecehkan itu menandakan bahwa perempuan adalah sosok yang mampu berpikir logis dan tidak emosional?

You must be joking, then.

tl;dr :  Seksisme pada perempuan di dunia IT digambarkan secara menarik (dan satir) oleh CommitStrip pada komik stripnya berikut ini:

Meanwhile, in a Parallel Universe
(http://www.commitstrip.com/en/2015/09/17/meanwhile-in-a-parallel-universe-2/? )

commitstrip


Pada tulisan ini, saya tidak sedang membuat duel perempuan vs laki-laki. Karena seksisme terhadap perempuan, tidak hanya dapat dilakukan oleh laki-laki, namun bisa juga dilakukan oleh sesama perempuan. Hal-hal sederhana (yang hanya terjadi di dalam pikiran) seperti “Wah kalau pergi ke tempat x, jangan pilih dilayani sama mbak X, perempuan dia, servis alat elektroniknya pasti gak bagus, pilih dilayani sama yang laki aja.” — jika anda (pembaca perempuan) pun masih berpikir demikian, maka anda sama saja mendukung seksisme ini untuk terus ada. Pun tidak semua laki-laki memandang perempuan sebagai sosok inferior — di masa kini, banyak orang-orang yang juga mengupayakan adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, sebuah lingkungan dimana tiap programmer dinilai dari kualitas kerjanya (bukan kelaminnya), juga mengupayakan sebuah lingkungan yang mengakomodir kenyamanan kerja untuk semua pihak (meminimalisasi diskriminasi, jam kerja yang lebih fleksibel untuk programmer yang telah memiliki anak, dsb).

Pada akhirnya, menghilangkan seksisme ini bukan kerjaan yang dapat selesai dalam satu-dua hari. Silicon Valley sebagai ‘tempat naik haji’-nya programmer pun masih memiliki pr besar dalam membentuk lingkungan kerja yang memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh karyawannya. Dalam lima tahun terakhir, sosok perempuan pun mulai bermunculan, seperti Marissa Meyer yang menjadi CEO Yahoo! maupun Sheryl Sandberg yang merupakan Chief Operating Officer Facebook. Komunitas-komunitas yang meng-encourage perempuan untuk aktif menulis kode seperti Girls Who Code juga semakin banyak.

Sekali lagi, kerja dalam mengupayakan keseteraan tadi bukanlah sebuah upaya untuk menjadikan perempuan lebih superior dari laki-laki. Tulisan ini, sebagai contoh kecilnya, hanyalah sebuah upaya untuk meluruskan dan mengenalkan bahwa siapapun, bisa dan mampu menjadi programmer, bahwa semuanya layak memiliki kesempatan yang sama untuk bisa aktif dan berkontribusi di dunia sains dan teknologi.

Jadi, tunggu apa lagi?

#include<stdio.h>

main()
{
printf("Hello World");
}

jaring laba-laba

Kemarin saya ada kelas hingga pukul delapan malam. Bus di kampus sudah sangat jarang, ditambah suhu yang cukup dingin (entah minus dua atau kurang), saya dan dua orang teman akhirnya memilih untuk mencari tumpangan dari mobil-mobil pribadi yang melintas di areal dalam kampus.

Kampus yang cukup luas dan jauhnya jarak dari gerbang utama ke fakultas terdekat membuat hitchhike menjadi kegiatan yang sangat umum di kampus saya. Apalagi di jam-jam dimana bus tak lagi melintas.

Beruntung, tidak sampai sepuluh menit, sebuah mobil berhenti dan mempersilakan kami untuk naik. Mungkin karena melihat kami bertiga orang asing, si empunya mobil baik hati menawarkan untuk melalui jalur terdekat ke asrama kami masing-masing. Lumayan, jadi irit ongkos, he he. Beliau pun lantas mengenalkan diri, statusnya merupakan mahasiwa research di kampus kami.

Di perjalanan, beliau melempar pertanyaan,
“Bagaimana pendapat kalian tentang politik di Turki?”

Tidak ada satupun dari kami yang menjawab, he he.

“Saya ingin tahu pandangan kalian sebagai mahasiswa asing. Kalian datang ke negara kami dan melihat situasi di sini, tidakkah kalian melihat tendensi sesuatu? Saya rasa kalian akan lebih objektif.”, jelasnya.

Seorang teman saya akhirnya menjawab bahwa kami tidak terlalu tahu karena tidak terlalu mengikuti berita dalam negeri, he he.

Si empunya mobil paham kondisi kami, dan dia pun melanjutkan dengan menceritakan kondisi Turki saat ini. Sedikit tentang Rusia, namun dia lebih menitikberatkan pada tensi antara kelompok terorisme di Turki dengan pemerintah.

Kedua teman saya yang duduk di sofa belakang memberikan tanggapan, saya diam saja, he he.

Lalu beliau melanjutkan,
“Kalian tahu, politik di Turki itu sebenarnya seperti… jaring laba-laba. Serangga-serangga besar bisa lolos melewati atau menerobos jaring itu, tapi tidak dengan serangga kecil. Serangga kecil tertangkap, lantas dimakan laba-laba.”

He he, menarik.

Beliau pun melanjutkan dengan membahas sedikit tentang perbandingan indeks pembangunan manusia di Turki dengan negara-negara lainnya di dunia. Tak lama kemudian, saya turun karena asrama saya sudah dekat.


Saya tidak anti politik. He he. Hanya malas saja. Bagaimana ya, rasanya saya tidak suka membicarakan atau memberikan pendapat mengenai politik jika memang saya tidak ada di kondisi yang mengharuskan untuk itu.

Apalagi sekarang, dengan status saya sebagai mahasiswa yang notabene numpang, saya jadi sangat berhati-hati untuk mengungkapkan pendapat. Tidak ada represi apa-apa, hanya saja, saya pikir tidak etis jika saya bertamu dan dijamu, lalu berkomentar terlalu banyak tentang tuan rumah. Jadilah, setiap ditanya soal politik, saya cenderung memilih untuk diam dan mengamati saja. Lagipula, kalau saya menjawab, tidak ada faedahnya juga buat saya. Saya lebih memilih menghindari kemungkinan sentimen politik yang tak perlu. Dan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Karena sejauh ini, yang saya lihat orang berdiskusi sebagian besarnya hanya ingin membuktikan kebenaran dirinya. Nambah-nambah beban pikiran saja, he he.

Biarlah orang saling debat. Buat saya, lebih asyik diam, memperhatikan, sambil makan kacang.

droid

Kepala saya berisik, berisik sekali saat ini. Namun saya tak kunjung tahu apa yang mestinya saya lakukan dengan bising. Apakah harus saya gemakan seluruhnya?

Waktu tidak pernah mengejar saya, ia hanya menatap saya dari kejauhan. Saya di sini, berdiri dan salah tingkah dibuatnya. Saya tidak pernah menyangka memiliki kendali akan pilihan bisa jadi sesulit ini.

Hingga beberapa tahun lalu, bisa dibilang bahwa saya hidup di jalur. Beraspal, ada petunjuk, tanpa cabang. Memang tidak terlalu mulus, namun setidaknya jika saja saya bertahan, maka tinggal ikuti saja, beres. Tapi dasar saya yang tak tahu diuntung, saya keluar dari lintasan.

Sekarang tidak lagi ada jalan, kecuali saya yang berjalan. Dari awal lagi, meraba-meraba. Ditilik dari sini, yang beraspal itu seperti imaji. Bagus tapi semu. Di titiannya, droid-droid menatap lurus ke depan. Saya pernah jadi bagian dari mereka? Sungguh?

Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan saya yang di luar ini yang semu. Yang dulu saya jalani hanya satu dari satu, dua, tiga, lima, delapan, f(n) + f(n+1)…. berlanjut terus. Entah berapa.

Sudahlah, mending saya jalan lagi saja.

kelana

Kuda itu akhirnya berhenti. Jokinya mati.

Matinya joki salah siapa? Tidak tahu, kok tanya saya? Sudah umurnya barangkali. Memangnya mati harus ada sebab?

Ya, harus. Kalau harus, ya itu, sebabnya; umurnya habis. Kenapa habis? Karena sudah digunakan. Harusnya dia menggunakannya sedikit-sedikit, biar tidak cepat mati.

Kudanya mencari joki baru? Entahlah, memangnya saya bisa bicara dengan kuda? Betul juga.

punpun

In the Mood for

Ini kali ketiga saya menonton In the Mood for Love (Does it imply I’m in the Mood for one? haha). Ada suatu hal yang tidak bisa saya jelaskan yang membuat saya suka menonton ini berulang kali. Saya bukan seorang penggemar film drama, apalagi yang menceritakan tentang affair suami-istri — namun In the Mood for Love seolah merupakan counterexample yang mematahkan proposisi saya. Mungkin saya akan bilang karena sinematografi film ini yang tak henti bermain dengan sudut yang tak diperkirakan sebelumnya — membuat saya mem-pause-repeat film ini hampir tiap tujuh menit sekali hanya untuk menikmati detil dan suguhan visual di dalamnya. Mungkin karena premisnya sungguh ‘standar’, yang saking standarnya membuatnya menjadi dekat — membuat saya merasa saya bisa saja mengalaminya. Mungkin karena musik Yumeji’s Theme yang membuat adegan membeli mie menjadi sangat masygul. Atau mungkin, semata karena cheongsam yang digunakan Maggie Cheung. Ya, mungkin karena yang terakhir itu.

Minggu (2)

Jika dihitung dari postingan ‘Minggu’ saya yang terakhir, maka sekarang bukanlah Minggu kedua sejak Minggu yang itu. Tapi benar adanya bahwa tulisan ini adalah Minggu kedua jika dihitung dari Minggu yang itu. Saya masih ada di ruang belajar, beruntung kali ini pemanasnya sudah menyala, sehingga saya tidak harus menggigil selaiknya minggu-minggu sebelumnya, minggu-minggu yang itu.

Kali ini saya ingin meracau saja seperti yang sebelum-sebelumnya. Produktif sekali memang, dalam tiga hari belakangan saya sudah mempublikasikan lebih dari tiga tulisan di blog ini — meskipun saya yakin setidaknya dua di antaranya benar-benar tidak bermanfaat.

Apa yang terjadi dengan saya, agaknya saya semakin idealis dengan paham ke-anti-idealis-an saya sendiri. Jika ada yang membaca Lacrimosa sebelumnya, maka bisa dirasakan perbedaan gaya menulis saya di sini dan di sana (meskipun keduanya sama-sama tidak jelas). Saya baru saja meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan lama saya dan sepanjang membaca saya hanya bisa menutup wajah; antara malu dan ingin menghina naifnya diri sendiri. Namun di satu sisi, merasa sedikit keren juga karena setidaknya tulisan remaja saya tidaklah terlalu norak, hehe.

Dalam menulis, saya termasuk orang yang kena racun Goenawan Mohamad– dulu, entah sekarang masih ada sisanya atau tidak. Saya terkesima dengan Caping, dengan bagaimana ‘apiknya’ GM memaparkan tulisannya, hingga saya ada di titik di mana ‘saya ingin menulis seperti itu’. Sekarang saya merasa itu lucu, membaca tulisan saya yang dulu jadi terasa sangat ‘sok iye’ dengan mencomot kutipan dan teori ahli sana-sini, serta penggunaan istilah-istilah yang kelewat jarang. Saya mengkompromikan substansi yang mestinya dapat diciptakan dan menukarkannya dengan efek ‘wow’ yang saya sendiri ragu apakah saya benar-benar memahaminya.

Saya sendiri tak yakin, apakah tulisan saya di sini pun sebenarnya masih sama ‘sok iye’-nya dengan tulisan saya yang sudah-sudah. Sebenarnya lebih berantakan, jika dipikir-pikir. Paparan dari berbagai topik yang tak ada sangkut paut (langsung)nya berserakan di laman Home. Saya sempat terpikir untuk membuat manajemen yang rapi atas tiap topik, tapi terlalu malas melakukannya, ya, karena memang hanya model ‘bebas’ beginilah yang dapat membuat saya lepas dalam menulis. Dan lagipula saya juga tak ada niatan untuk membuat situs ini menjadi situs komersil — jika memang ada (pembaca) yang ingin membaca topik tertentu maka tinggal klik tautan kategori di akhir tiap postingan — saya rasa itu cukup.

Apakah ke depannya saya akan menertawakan tulisan saya hari ini, ya, bisa jadi. Sangat mungkin, malah. Tapi setidaknya masih ada satu yang belum (dan saya harap jangan) berubah; semoga saya masih orang yang hanya menulis hal-hal yang ingin saya baca.

Mengenal Jenis Teh di Jepang

Belakangan ini, begitu mudah bagi kita untuk menemukan olahan dengan embel-embel green tea. Sebut saja es krim green tea, brownies green tea, hingga jajanan pasar seperti kue cubit green tea. Green tea yang digunakan dalam berbagai olahan tersebut adalah matcha – bubuk halus yang diperoleh dari pengolahan teh hijau dan mulanya berasal dari Jepang. Namun, apakah asosiasi antara Jepang dan teh hanya sebatas matcha saja?


Teh adalah salah satu jenis minuman yang paling banyak dikonsumsi di Jepang. Tidak hanya sebagai komoditi kuliner, teh juga memegang peranan penting dalam budaya Jepang, salah satunya terwujud dalam upacara minum teh. Ada berbagai jenis teh yang diproduksi di Jepang hingga saat ini, namun yang paling terkenal adalah teh hijau. Pusat produksi teh di Jepang yang terkenal antara lain adalah perfektur Shizuoka, Kagoshima, Kyoto, Fukuoka, Kumamoto dan Saga. Pada umumnya, jenis-jenis teh di Jepang diklasifikasikan menurut tipe penanaman, metode pengolahan dan daerah asalnya.

Berikut ini adalah jenis-jenis teh yang populer di Jepang:

1. Ryokucha (緑茶) : teh hijau
Sebagai jenis teh yang paling banyak dikonsumsi di Jepang, saat seseorang menyebut ‘teh’ (お茶,ocha), tanpa menyebutkan jenisnya, maka besar kemungkinan yang dimaksudnya adalah ryokucha. Ryokucha sendiri terbagi atas beberapa level tergantung pada perbedaan waktu panen dan durasi terpapar matahari.

ryokucha

ryokucha

a. Gyokuro : kerap disebut sebagai teh berkualitas paling tinggi di Jepang, gyokuro terbuat dari pucuk teratas , dilindungi dari sinar matahari beberapa saat sebelum dipanen dan dipetik pada musim panen pertama (ichi ban-cha) di bulan April.
b. Sencha : teh yang paling umum di Jepang dan sering ditemui di rumah-rumah orang Jepang. Sebagaimana gyokuro, sencha juga dipetik pada musim panen pertama, namun bedanya sencha tidak terlindung dari sinar matahari.
c. Bancha : merupakan kualitas terendah dari teh hijau, karena bancha dipanen pada musim panen kedua dan ketiga (musim panas dan musim gugur). Dibandingkan sencha, bancha tidak terlalu harum menenangkan namun wanginya lebih tajam. Oleh karena itu, bancha sering digunakan pada masakan.

gyokuro-sencha-bancha

(dari kiri ke kanan: gyokuro, sencha, bancha)

 

2. Genmaicha (玄米茶) : teh beras coklat
Genmaicha adalah campuran antara bancha dan genmai (beras coklat yang dibakar). Juga sering disebut sebagai teh popcorn, karena pada proses pembakarannya, genmai seringkali meletup. Adanya genmai memberikan genmaicha warna kuning yang khas dan rasa yang unik seperti kacang. Minimnya kaffein pada genmaicha membuatnya pas disajikan sebagai teh setelah makan malam.

genmaicha

genmaicha

 

3. Konacha (粉茶) : teh tunas
Konacha (kadang juga disebut kukicha) berasal dari serbuk teh, tunas teh dan daun teh berukuran kecil yang tersisa pada proses pembuatan gyokuro maupun sencha. Rasanya menyegarkan, ringan dan sedikit manis. Meskipun tergolong tingkat rendah, namun konacha cocok sebagai pelengkap beberapa jenis makanan, seperti sushi.

konacha

konacha

 

4. Hojicha (ほうじ茶): teh bakar
Berbeda dari teh Jepang lainnya, hojicha diperoleh dari pembakaran bancha atau konacha yang diletakkan di pot porselin dengan menggunkan arang. Proses ini memberikan karakter warna coklat kemerahan pada hojicha. Minimnya kaffein membuat hojicha cocok diminum setelah makan malam.

hojicha

hojicha

 

5. Oolongcha : teh Oolong
Oolongcha berwarna coklat dan berasal dari Cina. Proses pembuatannya mula-mula dengan membuat daun teh teroksidasi, lalu dilanjutkan dengan proses penguapan atau pembakaran. Bisa disajikan dingin maupun hangat.

oolong-cha

oolong-cha

 

6. Kocha (昆布茶) : teh hitam
Merupakan istilah bahasa Jepang dari black tea. Mudah ditemui di restoran maupun kafe dengan style Barat.

kocha

kocha

 

7. Sanpin-cha : teh melati
Teh ini sangat umum dijumpai di Indonesia, namun di Jepang, sanpin-cha umumnya hanya dikonsumsi di Okinawa. Sanpin-cha diperoleh dari mencampurkan ryokucha maupun oolongcha dengan bunga melati.

sanpincha

sanpincha

 

8. Mugicha (麦茶) : teh jelai
Meskipun berakhiran-cha, mugicha tidak berasal dari tanaman teh (Camellia sinensis). Mugicha berasal dari tanaman jelai (kerap digunakan pada sereal) yang diendapkan di air. Umumnya disajikan dingin di musim panas. Karena tidak memiliki kandungan kafein sebagaimana teh pada umumnya, mugicha dianggap baik dikonsumsi anak-anak.

mugicha

mugicha

 

9. Kombucha (昆布茶): teh rumput laut
Sebagaimana mugicha, kombucha juga tidak berasal dari tanaman teh. Kombucha dibuat dari mencampurkan irisan rumput laut kombu dengan air hangat. Teh ini memiliki rasa sedikit asin dan biasanya disajikan di penginapan Jepang (ryokan).

kombucha

kombucha



 

Begitulah sekilas tentang teh di Jepang. Tertarik? Ya, apalagi saya, hhe. :'(

Teh

Membicarakan soal teh, bagi saya lebih dari sekadar membicarakan jenis minuman. Mungkin terdengar berlebihan, tapi buat saya teh adalah salah satu katalis untuk merekam momen. Saat sedang menyesap teh, rasanya ada saja yang men-trigger memori-memori itu untuk menyeruak ke permukaan.


Saya sendiri lupa kapan pertama kali saya meminum teh — yang pasti sekitar balita (bawah lima tahun). Perkenalan saya dengan teh berawal dari nenek yang hobi sekali meminum teh tawar. Saya lumayan dekat dengan nenek, dan dari mengamati kebiasaannya, saya pun jadi tak pernah absen meminta ibu saya untuk turut membuatkan teh tawar.

Lebaran tahun 2000, kami sekeluarga pulang ke kampung ibu di Madiun. Di sana, saya disuguhi teh manis saat sedang berkunjung ke rumah kerabat. Kebetulan anak kerabat itu ada yang seumuran dengan saya dan dia menyebut saya sebagai ‘konco‘ (teman) -nya. Walhasil, sejak saat itu saya mulai meminta ibu untuk membuat teh manis sebagai alternatif dari teh tawar — dan menyebutnya dengan istilah teh konco, hehe.

Masuk sekolah dasar, kebiasaan saya minum teh malah semakin menjadi-jadi. Konsumsi air putih sangat minim jika dibandingkan dengan konsumsi harian teh saya. Hingga akhirnya untuk mengurangi konsumsi teh saya, ibu ‘memberitahu’ bahwa terlalu banyak mengkonsumsi teh bisa membuat usus saya berkarat. Metode ibu terbukti efektif, saya percaya saja waktu itu, bahkan sempat takut sedikit. Saya lantas mengurangi konsumsi teh hingga cukup drastis. Meski satu tahun kemudian saya tahu kalau itu bohong dan mulai mengkonsumsi teh lagi, hehe– namun setidaknya proporsi teh dan air putih saya sudah seimbang.


Teh adalah minuman wajib di keluarga saya. Sarapan, makan siang dan makan malam, dingin maupun hangat, manis ataupun tawar. Saya beruntung lahir di Indonesia, teh sangat mudah didapat. Variannya belum banyak, memang. Umumnya saya hanya mengkonsumsi teh jenis teh hitam (+melati atau +lemon) dan teh hijau. Petualangan rasa yang saya lakukan hanya berkisar dari merk satu ke merk lain. Walaupun begitu, hal ini membuat saya lumayan peka atas perbedaan citarasa dan aroma dari berbagai merk teh arus utama di Indonesia.

Kadang kala, kepekaan ini pula lah yang membuat saya jadi menilai orang atas preferensi tehnya. Saya memberikan respek tersendiri terhadap orang-orang yang menyukai teh dan menganggap citarasa teh yang diminum sebagai suatu hal yang penting (apalagi sampai memberikan teh, hkhkh).

Lepas sebentar dari Indonesia, beruntung sekarang saya nyasar di Turki yang merupakan negara dengan pengkonsumsi teh paling banyak di dunia. Varian teh di sini pun lebih beragam dari di Indonesia. Namun saya tahu, masih sangat banyak teh yang belum saya coba. Petualangan teh saya masih sangat bergantung dari ulasan-ulasan di internet.

Ingin rasanya bisa mencicipi seluruh jenis teh dari berbagai belahan dunia, suatu saat nanti.

iroh

“Çay içer misin?”