Bodoh

ya

Jika pergeseran perspektif pada saya bisa dijabarkan dalam satu-dua kalimat, agaknya itu: “It’s fine to be stupid.

Memasuki Seijin no Hi benar-benar sebuah tarik menarik. Di satu sisi saya mengeluh, ngoyo terus akan minimnya pencapaian diri sendiri. Di sisi lain, saya makin sering mempertanyakan: “lantas buat apa?“. Saya jadi lebih sok tahu. Sok-sok memperkirakan makna sebelum melakukan sesuatu, padahal sebelumnya adalah tipe yang hajar bleh, yang penting menang dulu. Saya tidak yakin mana yang lebih baik. Sekarang saya agaknya berdamai dengan kondisi saya yang terus-terusan bodoh dan biasa-biasa saja (seseorang mungkin tertawa kalau melihat saya menulis frasa-yang-sebenarnya-saya-benci ini) .

Hidup adalah sekuens dari kesalahan satu ke kesalahan lainnya. Dan di antaranya, kita memetik makna. Meski entah akhirnya jadi benar atau tidak.

Perempuan, Teknologi, dan Hal-hal yang Belum Selesai

Saya programmer. Saya perempuan.


“Marie Curie… er…, er…”,

Saya berani bertaruh, begitulah respon yang akan saya dapat jika memberi pertanyaan kepada sembarang orang untuk menyebutkan minimal tiga nama perempuan yang berjasa di ranah sains dan teknologi. Sukur-sukur — jika orang itu mengenal internet — barangkali  setelahnya ia dapat menyebut Maryam Mirzakhani, namun tetap saja, saya sangsi ia bisa memberi nama ketiga.

Rasa sangsi saya bukan tanpa alasan. Dalam kurun waktu 1901-2010, tercatat hanya ada 16 perempuan yang mendapatkan hadiah Nobel di bidang sainstek (fisika, kimia, fisiologi). Selama abad ke-19, sebagian besar perempuan masih tereksklusi dari pendidikan formal. Kesempatan yang tidak merata ini jugalah yang sedikit-banyaknya menjadi alasan atas minimnya perempuan di dunia sainstek. Jika menarik ke persoalan yang lebih mendasar lagi, Perdana Putri dalam Percakapan Malam Ini Tentang Perempuan dan Sains menyebutkan bahwa ini merupakan hasil dari pola pikir patriarki dan (meminjam istilah beliau) ‘ekses jorok’ dari moda kapitalisme di masyarakat.

Sebelum melanjutkan ke tulisan saya, barangkali kita harus bertanya, jangan-jangan, kita sendiri, diam-diam masih mengamini pola pikir tersebut?


Saya perempuan. Saya programmer.

Hingga ini ditulis, status saya juga masih seorang pelajar, jadi bisa dibilang bahwa saya belum seratus persen terjun langsung sebagai programmer penuh waktu. Meski demikian, saya yang hobi //mengamati// memang telah menangkap hal-hal ‘lucu’ dari ranah ini. Bukan sekali-dua kali saya menangkap kentalnya seksisme di dunia IT.

Seseorang di linimasa saya membagikan tulisan ini sembari menyetujui. Membacanya, membuat saya mengernyitkan dahi.

My (and probably yours) Biggest Question About IT World (https://medium.com/@opam22/my-and-probably-yours-biggest-question-about-it-world-ec477150bafb#.d6cwl4lub)

(tidak, bukan saya yang salah ketik, judulnya memang begitu)

Tulisan tadi dibuka dengan pertanyaan,
“Mahasiswi IT itu banyak, tapi kenapa programmer wanita itu sedikit?”

Penulis lantas melanjutkan argumennya dengan menyebutkan hal–hal yang dianggapnya menjadi penyebab minimnya programmer perempuan. Semua poin alasannya didasarkan atas stereotip ‘perempuan’; perempuan lebih emosional, perempuan lebih mudah stres, perempuang lebih mudah menyerah, perempuan adalah sosialita (?), perempuan tidak menyukai sesuatu yang rumit seperti programming???

I was like, “Dude, seriously?”

Di akhir tulisannya, ia menyebutkan tentang eksistensi Ada Lovelace sebagai programmer pertama yang merupakan perempuan, juga tantangan bagi perempuan untuk membuktikan pada dunia bahwa asumsi si penulis atas perempuan itu tidak benar. Membacanya sekilas, barangkali pembaca akan berpikir bahwa, oh ya, tulisan ini bagus dijadikan sebagai pemacu programmer perempuan untuk bekerja lebih giat lagi.

Sayangnya, tidak demikian buat saya.

Saya justru bertanya, “Kenapa saya harus membuktikan? Apa yang harus saya buktikan?” Saya tidak harus membuktikan saya tidak lebih emosional dari seorang laki-laki. Jika kodingan program saya bagus, ya bagus saja. Jika tidak, ya tidak. Bukankah sesimpel itu? Apa pasal perempuan harus membuktikan bahwa dirinya ‘tidak sesuai stereotip’ hanya untuk ‘diakui’? Lagipula, poin-poin yang dijabarkan sebagai ‘stereotip’ di hal tadi saya rasa tidak terkait dengan identitas seksual tertentu.

Saya jadi teringat kata seorang senior, bahwa di dunia sainstek, untuk mendapat pengakuan (atau posisi) yang sama dengan seorang laki-laki, perempuan harus bisa memiliki kemampuan dua setengah kali lebih tinggi dari laki-laki tersebut. Ungkapan tersebut memang tidak didukung data statistik, namun mengingat tulisan di Medium tadi, saya kira kurang lebih memang demikian adanya. Dari sini, saya rasa jelas bahwa dari awal, perempuan dianggap sebagai identitas yang lebih inferior dari laki-laki. Perempuan harus ‘membuktikan’ eksistensi dirinya agar supaya ‘tak lagi dianggap (“sekadar”) perempuan’.

Selain menyoroti tentang stereotip tadi, hal lain yang saya rasa kurang mengakomodir perempuan untuk bisa mendapat privilege yang sama dengan laki-laki adalah kultur kerja di dalamnya, dimana pada sebuah komunitas IT, ada kecenderungan untuk berkomunikasi dengan gaya maskulin, jokes vulgar, juga anggapan bahwa semakin ‘geek’ anda ditentukan dari seberapa ‘arogan’ dan ketidakmampuan (ya, ketidakmampuan) anda untuk berkomunikasi dengan orang lain (terutama komunikasi dengan perempuan). Anda bisa lihat bagaimana film The Social Network menampilkan sosok Mark Zuckerberg (meskipun Mark sendiri menolak bahwa dirinya seperti yang ditampilkan di film), kita bisa menilai bahwa begitulah masyarakat menginterpretasikan bagaimana seorang programmer seharusnya (introvert, anti-sosial).

Kontroversi tentang perempuan di dunia teknologi tidak berhenti di situ saja. Asumsikan seorang perempuan berhasil masuk ke kultur di dalamnya, ini belum berarti bahwa ia akan mampu diterima sepenuhnya. Rentetan kasus pelecehan pada perempuan di dunia teknologi kerap terjadi pada konferensi-konferensi developer program (mulai dari hal ‘sederhana’ seperti panggilan “bitch” yang me-refer ke programmer perempuan) maupun ancaman perkosaan juga bullying secara konstan di lingkungan kerja. Adalah Noirin Shirley, seorang technical writer Google yang mengalami pelecahan seksual pada ApacheCon (sebuah konferensi software di Atlanta, November 2010). Setelah dia menulis nama tersangka di blog, Shirley justru mendapat respon dari pembaca bahwa “dia layak diperkosa” dan mestinya “paham bahwa itu sangat mungkin terjadi” pada situasi tersebut. Daftar panjang kasus pelecehan lainnya dapat anda temukan di sini.

Saat perempuan tersebut bersuara, maka yang terjadi kira-kira seperti Julie Ann Horvarth, seorang teknisi pada komunitas koding sekaliber GitHub, yang akhirnya memilih keluar pada 2014 lalu setelah tak henti mendapat ancaman. Ketika perempuan berbicara mengenai kondisinya yang tidak nyaman secara emosional atas lingkungan kerjanya yang tidak mendukung, ia diminta untuk ‘memaklumi’ dan ‘tidak membawa emosi pribadi’ saat dilecehkan. Apakah tidak ’emosional’ saat anda dilecehkan itulah yang disebut ‘setara’? Apakah jika perempuan diam saja, memaklumi dan santai saat dilecehkan itu menandakan bahwa perempuan adalah sosok yang mampu berpikir logis dan tidak emosional?

You must be joking, then.

tl;dr :  Seksisme pada perempuan di dunia IT digambarkan secara menarik (dan satir) oleh CommitStrip pada komik stripnya berikut ini:

Meanwhile, in a Parallel Universe
(http://www.commitstrip.com/en/2015/09/17/meanwhile-in-a-parallel-universe-2/? )

commitstrip


Pada tulisan ini, saya tidak sedang membuat duel perempuan vs laki-laki. Karena seksisme terhadap perempuan, tidak hanya dapat dilakukan oleh laki-laki, namun bisa juga dilakukan oleh sesama perempuan. Hal-hal sederhana (yang hanya terjadi di dalam pikiran) seperti “Wah kalau pergi ke tempat x, jangan pilih dilayani sama mbak X, perempuan dia, servis alat elektroniknya pasti gak bagus, pilih dilayani sama yang laki aja.” — jika anda (pembaca perempuan) pun masih berpikir demikian, maka anda sama saja mendukung seksisme ini untuk terus ada. Pun tidak semua laki-laki memandang perempuan sebagai sosok inferior — di masa kini, banyak orang-orang yang juga mengupayakan adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, sebuah lingkungan dimana tiap programmer dinilai dari kualitas kerjanya (bukan kelaminnya), juga mengupayakan sebuah lingkungan yang mengakomodir kenyamanan kerja untuk semua pihak (meminimalisasi diskriminasi, jam kerja yang lebih fleksibel untuk programmer yang telah memiliki anak, dsb).

Pada akhirnya, menghilangkan seksisme ini bukan kerjaan yang dapat selesai dalam satu-dua hari. Silicon Valley sebagai ‘tempat naik haji’-nya programmer pun masih memiliki pr besar dalam membentuk lingkungan kerja yang memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh karyawannya. Dalam lima tahun terakhir, sosok perempuan pun mulai bermunculan, seperti Marissa Meyer yang menjadi CEO Yahoo! maupun Sheryl Sandberg yang merupakan Chief Operating Officer Facebook. Komunitas-komunitas yang meng-encourage perempuan untuk aktif menulis kode seperti Girls Who Code juga semakin banyak.

Sekali lagi, kerja dalam mengupayakan keseteraan tadi bukanlah sebuah upaya untuk menjadikan perempuan lebih superior dari laki-laki. Tulisan ini, sebagai contoh kecilnya, hanyalah sebuah upaya untuk meluruskan dan mengenalkan bahwa siapapun, bisa dan mampu menjadi programmer, bahwa semuanya layak memiliki kesempatan yang sama untuk bisa aktif dan berkontribusi di dunia sains dan teknologi.

Jadi, tunggu apa lagi?

#include<stdio.h>

main()
{
printf("Hello World");
}

jaring laba-laba

Kemarin saya ada kelas hingga pukul delapan malam. Bus di kampus sudah sangat jarang, ditambah suhu yang cukup dingin (entah minus dua atau kurang), saya dan dua orang teman akhirnya memilih untuk mencari tumpangan dari mobil-mobil pribadi yang melintas di areal dalam kampus.

Kampus yang cukup luas dan jauhnya jarak dari gerbang utama ke fakultas terdekat membuat hitchhike menjadi kegiatan yang sangat umum di kampus saya. Apalagi di jam-jam dimana bus tak lagi melintas.

Beruntung, tidak sampai sepuluh menit, sebuah mobil berhenti dan mempersilakan kami untuk naik. Mungkin karena melihat kami bertiga orang asing, si empunya mobil baik hati menawarkan untuk melalui jalur terdekat ke asrama kami masing-masing. Lumayan, jadi irit ongkos, he he. Beliau pun lantas mengenalkan diri, statusnya merupakan mahasiwa research di kampus kami.

Di perjalanan, beliau melempar pertanyaan,
“Bagaimana pendapat kalian tentang politik di Turki?”

Tidak ada satupun dari kami yang menjawab, he he.

“Saya ingin tahu pandangan kalian sebagai mahasiswa asing. Kalian datang ke negara kami dan melihat situasi di sini, tidakkah kalian melihat tendensi sesuatu? Saya rasa kalian akan lebih objektif.”, jelasnya.

Seorang teman saya akhirnya menjawab bahwa kami tidak terlalu tahu karena tidak terlalu mengikuti berita dalam negeri, he he.

Si empunya mobil paham kondisi kami, dan dia pun melanjutkan dengan menceritakan kondisi Turki saat ini. Sedikit tentang Rusia, namun dia lebih menitikberatkan pada tensi antara kelompok terorisme di Turki dengan pemerintah.

Kedua teman saya yang duduk di sofa belakang memberikan tanggapan, saya diam saja, he he.

Lalu beliau melanjutkan,
“Kalian tahu, politik di Turki itu sebenarnya seperti… jaring laba-laba. Serangga-serangga besar bisa lolos melewati atau menerobos jaring itu, tapi tidak dengan serangga kecil. Serangga kecil tertangkap, lantas dimakan laba-laba.”

He he, menarik.

Beliau pun melanjutkan dengan membahas sedikit tentang perbandingan indeks pembangunan manusia di Turki dengan negara-negara lainnya di dunia. Tak lama kemudian, saya turun karena asrama saya sudah dekat.


Saya tidak anti politik. He he. Hanya malas saja. Bagaimana ya, rasanya saya tidak suka membicarakan atau memberikan pendapat mengenai politik jika memang saya tidak ada di kondisi yang mengharuskan untuk itu.

Apalagi sekarang, dengan status saya sebagai mahasiswa yang notabene numpang, saya jadi sangat berhati-hati untuk mengungkapkan pendapat. Tidak ada represi apa-apa, hanya saja, saya pikir tidak etis jika saya bertamu dan dijamu, lalu berkomentar terlalu banyak tentang tuan rumah. Jadilah, setiap ditanya soal politik, saya cenderung memilih untuk diam dan mengamati saja. Lagipula, kalau saya menjawab, tidak ada faedahnya juga buat saya. Saya lebih memilih menghindari kemungkinan sentimen politik yang tak perlu. Dan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Karena sejauh ini, yang saya lihat orang berdiskusi sebagian besarnya hanya ingin membuktikan kebenaran dirinya. Nambah-nambah beban pikiran saja, he he.

Biarlah orang saling debat. Buat saya, lebih asyik diam, memperhatikan, sambil makan kacang.

droid

Kepala saya berisik, berisik sekali saat ini. Namun saya tak kunjung tahu apa yang mestinya saya lakukan dengan bising. Apakah harus saya gemakan seluruhnya?

Waktu tidak pernah mengejar saya, ia hanya menatap saya dari kejauhan. Saya di sini, berdiri dan salah tingkah dibuatnya. Saya tidak pernah menyangka memiliki kendali akan pilihan bisa jadi sesulit ini.

Hingga beberapa tahun lalu, bisa dibilang bahwa saya hidup di jalur. Beraspal, ada petunjuk, tanpa cabang. Memang tidak terlalu mulus, namun setidaknya jika saja saya bertahan, maka tinggal ikuti saja, beres. Tapi dasar saya yang tak tahu diuntung, saya keluar dari lintasan.

Sekarang tidak lagi ada jalan, kecuali saya yang berjalan. Dari awal lagi, meraba-meraba. Ditilik dari sini, yang beraspal itu seperti imaji. Bagus tapi semu. Di titiannya, droid-droid menatap lurus ke depan. Saya pernah jadi bagian dari mereka? Sungguh?

Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan saya yang di luar ini yang semu. Yang dulu saya jalani hanya satu dari satu, dua, tiga, lima, delapan, f(n) + f(n+1)…. berlanjut terus. Entah berapa.

Sudahlah, mending saya jalan lagi saja.

kelana

Kuda itu akhirnya berhenti. Jokinya mati.

Matinya joki salah siapa? Tidak tahu, kok tanya saya? Sudah umurnya barangkali. Memangnya mati harus ada sebab?

Ya, harus. Kalau harus, ya itu, sebabnya; umurnya habis. Kenapa habis? Karena sudah digunakan. Harusnya dia menggunakannya sedikit-sedikit, biar tidak cepat mati.

Kudanya mencari joki baru? Entahlah, memangnya saya bisa bicara dengan kuda? Betul juga.

punpun

In the Mood for

Ini kali ketiga saya menonton In the Mood for Love (Does it imply I’m in the Mood for one? haha). Ada suatu hal yang tidak bisa saya jelaskan yang membuat saya suka menonton ini berulang kali. Saya bukan seorang penggemar film drama, apalagi yang menceritakan tentang affair suami-istri — namun In the Mood for Love seolah merupakan counterexample yang mematahkan proposisi saya. Mungkin saya akan bilang karena sinematografi film ini yang tak henti bermain dengan sudut yang tak diperkirakan sebelumnya — membuat saya mem-pause-repeat film ini hampir tiap tujuh menit sekali hanya untuk menikmati detil dan suguhan visual di dalamnya. Mungkin karena premisnya sungguh ‘standar’, yang saking standarnya membuatnya menjadi dekat — membuat saya merasa saya bisa saja mengalaminya. Mungkin karena musik Yumeji’s Theme yang membuat adegan membeli mie menjadi sangat masygul. Atau mungkin, semata karena cheongsam yang digunakan Maggie Cheung. Ya, mungkin karena yang terakhir itu.